KAMPUNG AUR, SAHABAT SUNGAI DELI! : Kolaborasi Kalimat Para Wisatawan Piknik Heritage ke-6

0
Sahabat Sungai Deli, Bg Icap dan Bg. Budi. Foto:WLD

Sungai ibarat seorang ibu, dia menumbuhkan dan menghidupkan, sayangnya kita sering abaikan kepentingannya.

Sungai bukan sekedar air yang mengalir, tapi ingatlah bahwa akan ada kehidupan lain bersamanya; kehidupan hayati, lingkungan dan juga pemukiman. Inilah peradaban dari sebuah sejarah. Sungai Deli, sungai kebanggaan katanya, dulunya menjadi pintu gerbang masuknya pedagang-pedagang internasional di masa Kerajaan Sungai Deli. Tapi mengapa, semua itu benar-benar menjadi kenangan? Sejarah terlupakankah?

Tak terlupa, Cuma tak dipedulikan saja. Ya, itulah Sungai Deli. Sungai yang seharusnya menjadi pusat hidup yang mumpuni bagi orang-orang yang tinggal di sekitarnya. Air sebagai sumber kehidupan adalah fakta mutlak yang kita ketahui bersama. Merawat sungai sama dengan menjaga dan melestarikan agar potensi sungai dapat diberdayakan menjadi lebih baik, lagi, lagi, dan lagi.

Tapi sekarang, airmu tenang, begitupun sampah yang turut ikut kau bawa berjalan jauh. Ketika berada di pinggiran sungai, yang dirasakan adalah baumu menyengat tercium. Terparah, tak disangka, di balik fakta besar ini masih ada perkampungan yang tidak diperhatikan.

Kampung Aur namanya, dimana banyak cerita yang muncul disana, mulai kehidupan pinggiran sungai yang sering dilupakan ketika gedung-gedung pencakar langit lebih menarik untuk dilihat dan diperhatikan. Padahal, Kampung Aur memiliki potensi mencetak generasi-generasi brilliant karena kekuatan kekompakan dan gotong royong masyarakatnya jika diarahkan dan dibimbing dengan baik.

Kampung Aur dan Sungai Deli. Foto:WLD
*Kampung Aur, Sahabat Sungai Deli

“kalau kalian bilang kalian Relawan Sungai Deli, kenapa pas lagi banjir kalian tidak ada menolong kami?”

Coba lihat sekitar Sungai Deli, sampah sekecil apapun mengakibatkan bencana besar, banjir khususnya padahal kita bisa mencegahnya. Sungai Deli bukan tempat sampah, banyak makhluk hidup yang perlu dilestarikan di dalamnya. Faktanya, ketika terjun langsung ke pinggiran sungai Deli, miris rasanya melihat keadaan sekitar, khususnya masyarakat Kampung Aur, kampung yang punya semangat militansi walau termarjinalisasi.

Seharusnya pemerintah lebih peduli dengan Kampung Aur. Karena masyarakat Kampung Aur bisa mengembalikan banyak potensi Sungai Deli. Mereka “warga Aur” pantas merasakan indahnya Kota Medan. Dalam keadaan yang cukup prihatin saja, mereka masih bisa tersenyum dan tertawa, tulus dari mereka, adik-adik yang mencelupkan badannya ke Sungai Deli yang kotor.

Apa yang terlihat cerah dari Kampung Aur yang tersudut? Benar, kalian akan melihat nilai gotong royong penduduk Kampung Aur sungguh sangat luar biasa, mereka berhasil menerapkan butir-butir pancasila.

Namun begitulah Kampung Aur, mereka salah satu daerah yang tidak dipedulikan. Sampai-sampai masyarakatpun sudah kehilangan keasliannya. Terlihat sampah berserakan di pinggir sungai dan masyarakat yang berjualan di hampir setiap rumah, padahal banyak yang dapat mereka manfaatkan untuk sumber penghasilan atau membentuk ekonomi kreatif.  Jika pemerintah tidak peduli, harusnya ada kerjasama antara kita yang peduli lingkungan dan masyarakat.

Saatnya kita memikirkan pendidikan anak-anak Kampung Aur, kita menginginkan warganya lebih aktif untuk sadar akan kesehatan hidupnya, baik penyakit menular, tidak menular serta PHBS.

*
 “Halo kakak dan abang, ayo lihat kondisi kami yang membutuhkan uluran tangan kalian bukan untuk dikasihani tapi untuk dirangkul dan berjalan bersama menuju sukses.”

Seorang anak yang bernama Sungai Deli butuh perhatian lebih. Airnya yang dinikmati sudah seharusnya dirawat, selayaknya anak sendiri. Jangan menunggu bencana alam terjadi, lalu kita peduli Sungai Deli. Air merupakan sumber kehidupan untuk makhluk hidup. Kebersihan sungai Deli adalah tanggungjawab bersama dari seluruh lapisan masyarakat. Selamatkan sungai secepatnya! Sebelum menyesal selamanya. Sekarang yang paling penting siapa melakukan apa. Mari bergerak.

Itulah mengapa, bukan alasan untuk kita melupakan keberadaan Kampung Aur, karena Sungai Deli juga merupakan denyut nadi sejarah Kota Medan. Mari berusaha untuk membenahi sungai di Kampung Aur. Membuat anak-anak di Kampung Aur menjadi sehat. Jangan biarkan anak cucu kita menderita karena ulah kita sekarang yang tidak menjaga sungai dan lingkungan.

Mudah-mudahan, semangat juang para anak-anak di Kampung Aur tidak luntur karena budaya ketika mereka dewasa. Dan mudah-mudahan pendidikan anak-anak di Kampung aur lebih meningkat agar anak-anak tersebut bisa membangun Kampung Aur lebih maju.


Sapta pesona harus digalakkan kembali demi Kota Medan yang sejahtera, makmur, aman sentosa. Walikota baru momentum perencanaan Sungai Deli menjadi lebih baik, maka advokasi dan awasi!!!

Editor: Ahmad Hakiki (Go-River)

Kolaborasi Kalimat Piknik Heritage ini didedikasikan untuk kita semua yang peduli dengan Sungai Deli. Kalimat ini dibuat oleh Wisatawan Piknik Heritage di Kampung Aur, Sabtu 12 Desember 2015. Wisatawan-wisatawan Piknik Heritage merupakan kawula muda dari berbagai komunitas di Kota Medan, seperti: Medan Heritage, Go-River, Hilo Green Community, Turun Tangan Sumut, dll.

0 komentar: